Roemah Melajoe 1929: Warisan Arsitektur Melayu di Tengah Kota Pekanbaru
Roemah Melajoe 1929 merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi simbol kejayaan budaya dan arsitektur Melayu di Kota Pekanbaru. Bangunan ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya masyarakat Melayu Riau, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah kota sejak masa kolonial. Sebagai salah satu rumah panggung tradisional yang masih terawat, Roemah Melajoe 1929 kini menjadi destinasi wisata budaya sekaligus pusat pelestarian kearifan lokal.
Sejarah Singkat
Bangunan Roemah Melajoe 1929 dibangun pada tahun 1929, pada masa ketika Pekanbaru mulai berkembang sebagai pusat perdagangan di wilayah Sungai Siak. Rumah ini dimiliki oleh keluarga Melayu terpandang yang terlibat dalam aktivitas perdagangan dan pemerintahan tradisional. Dengan usia hampir satu abad, Roemah Melajoe telah mengalami berbagai fase sejarah—mulai dari era kolonial, masa kemerdekaan, hingga perkembangan modern Kota Pekanbaru saat ini.
Keberadaannya yang masih kokoh hingga kini menjadi bukti kualitas konstruksi tradisional Melayu yang memadukan kearifan teknik bangunan lokal dengan bahan-bahan alami.
Arsitektur dan Keunikan Bangunan
Roemah Melajoe 1929 memiliki bentuk rumah panggung tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Melayu di wilayah pesisir. Beberapa elemen arsitektur khas yang ditemukan pada bangunan ini antara lain:
- Panggung kayu yang berfungsi sebagai penyangga untuk menghadapi kondisi tanah dan banjir.
- Ukiran dan ornamen Melayu pada dinding, jendela, dan pintu dengan motif flora dan geometris.
- Atap limas bertingkat, menggambarkan gaya rumah Melayu klasik.
- Material kayu pilihan seperti kayu meranti dan kayu kulim, yang terkenal kuat dan tahan lama.
-Bagian interior rumah juga dipertahankan dengan baik, memperlihatkan tata ruang khas rumah - - Melayu seperti ruang tamu luas, bilik-bilik tidur, dan balai adat.
Fungsi dan Peran Saat Ini
Saat ini, Roemah Melajoe 1929 tidak hanya berfungsi sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai ruang publik yang digunakan untuk:
- kegiatan kesenian dan budaya Melayu,
- pameran sejarah,
- pertemuan komunitas budaya,
- wisata edukasi bagi pelajar dan peneliti, serta
- destinasi fotografi bagi wisatawan.
Keberadaan rumah ini membantu memperkenalkan identitas dan estetika budaya Melayu kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Pelestarian dan Tantangan
Upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemilik bangunan bersama pemerintah daerah dan pemerhati budaya. Perawatan rutin bangunan kayu, penggantian komponen yang rusak, serta dokumentasi sejarah menjadi bagian penting dari program pelestarian.
Tantangan terbesar adalah menjaga keaslian struktur bangunan di tengah perkembangan kawasan perkotaan serta perubahan iklim yang dapat mempengaruhi kondisi material kayu. Meski demikian, Roemah Melajoe 1929 tetap berdiri megah sebagai bukti nyata nilai budaya yang harus terus dijaga.
Kesimpulan
Roemah Melajoe 1929 merupakan aset budaya yang sangat penting bagi masyarakat Pekanbaru. Rumah ini tidak hanya memperlihatkan keindahan arsitektur tradisional Melayu, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perjalanan kota. Melalui pelestarian yang berkelanjutan, bangunan ini dapat terus menjadi pusat pembelajaran budaya dan simbol identitas Melayu Riau di masa kini dan mendatang.
Daftar Pustaka
Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Dokumentasi Rumah Adat Melayu.
Pemerintah Kota Pekanbaru, Profil Cagar Budaya Pekanbaru.
Lembaga Adat Melayu Riau, Arsitektur Tradisional Melayu: Sejarah dan Filosofi.
Buku Warisan Budaya Riau, Kajian Bangunan Bersejarah Pekanbaru.
Catatan Sejarah Kawasan Senapelan dan Pesisir Sungai Siak.